Minggu, 28 September 2014

UTS T'IB



Sistem Bilangan
Banyak sistem bilangan yang digunakan pada piranti digital, dan yang biasa digunakan ialah sistem-sistem bilangan biner, oktal, decimal, dan heksa decimal. . Untuk memudahkan pembahasan, kita membagi sistem bilangan menjadi basis-10 dan basis ke-n, dimana n > 2. Sehingga dikenal banyak sistem seperti basis –2, basis-3, …, basis-8, …,basis-10, …, basis-16, dan seterusnya. Semua sistem bilangan tersebut termasuk kedalam sistem bilangan berbobot, artinya nilai sustu angka tergantung dari posisi relatifnyaterhadap koma atau angka satuan. Misalnya bilangan 5725,5 dalam decimal. Ketiga angka 5 memiliki nilai yang berbeda, angka 5 paling kanan bernilai lima persepuluhan, angka 5 yang tengah bernilai lima satuan sedangkan angka 5 yang lainnya bernilai lima ribuan.
Untuk membedakan suatu bilangan dalam sistem bilangan tertentu digunakan konvensi notasi. Untuk basis-n kita menggunakan indeks n atau tanda lain yang disepakati. Sebagai contoh bilangan ‘11’ basis-2 akan ditulis dalam bentuk ‘112’ untuk mencegah terjadinya salah pengertian dengan bilangan ‘118’, ‘1110’ atau ‘1116’ dan seterusnya. Kadang-kadang indeks tersebut tidak dicantumkan jika basis tersebut sudah jelas. Misalkan secara khusus sedang membahas bilangan basis-8, maka bilangan-bilangan dalam pembahasan tersebut tidak disertai indeks. Sering pula.

2.1 Basis-10 (desimal)
Dalam sistem decimal (basis-10) mempunyai simbol angka (numeric) sebanyak 10 buah simbol, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. nilai suatu bilangan dalam basis-10 dapat dinyatakan sebagai Σ(N x 10a) dengan N = 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan a = …, -3,-2, -1, 0, 1, 2, 3, …(bilangan bulat yang menyatakan posisi relatif N terhadap koma atau satuan ). Contoh : 32510 = 3 x 102 + 2 x 101 + 5 x 100 0,6110 = 0 x 100 + 6 x 10-1 + 11 x 10-2 + 6 x 101 + 1 x 10-2 9407,10810 = 9 x 103 + 4 x 102 + 7 x 100 + 1 x 10-1 + 8 x 10-3

2.2 Basis-2 (biner)
Dalam sistem biner (basis-2) mempuyai simbol angka (numeric) sebanyak 2 buah simbol, yaitu 0 dan 1. nilai suatu bilangan basis-2 dalam basis-10 dapat dinyatakan sebagai Σ(N x 2a) dengan N = 0 atau 1; dan a = …, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …(bilangan bulat dalam decimal yang menyatakan posisi relatif N terhadap koma atau satuan). Contoh :

11012 = 1 x 23 + 1 x 22 +1 x 20 = 8 + 4 + 1 = 1310 0,101 = 0 x 20 + 1 x 2-1 + 0 x 2-2 + 1 x 2-3 = 0 + 0,5 + 0 + 0,125 = 0,62510 11,01 = 1 x 21 + 1 x 20 + 1 x 2-2 = 2 + 1 + 0,25 = 3,2510

2.3 Basis-8 (octal)
Dalam sistem octal (basis-8) mempunyai simbol angka (numerik) sebanyak 8 buah symbol, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 . nilai suatu bilangan basis-8 dalam basis 10 dapat dinyatakan sebagai Σ(N x 8a) dengan N = 0, 1, 2,3, 4, 5, 6, dan 7; dan a = …,-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …(bilangan bulat dalam decimal yang menyatakan posisi relatif N terhadap koma atau satuan). Contoh : 647,358 = 6 x 82 + 4 x 81 + 7 x 80 + 3 x 8-1 + 5 x 8-2 = 384 + 32 + 7 + 0,375 + 0,078125 = 423,45312510

2.4 Sis-16 (heksa-desimal)
Dalam sistem heksa-desimal (basis-16) mempunyai simbol angka (numerik) sebanyak 16 buah simbol. Karena angka yang telah dikenal ada 10 maka perlu diciptakan 6 buah symbol angka lagi yaitu A, B, C, D, E, dan F dengan nilai A16 = 1010, B16 = 1110, C16 = 1210, D16 =1310, E16 = 1410 dan F16 =1510. Dengan demikian simbol angka-angka untuk sistem heksa=decimal adalah 0, 1, 2,3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, dan F. nilai suatu bilangan basis-16

dalam basis-10 dapat dinyatakan sebagai Σ(Nx 16a) dengan N = 0, 1, 2,3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, dan 15; dan a = …, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …(bilangan bulat dalam decimal yang menyatakan posisi relatif N terhadap koma atau satuan). Contoh : 584AED16 = 5 x 165 + 8 x 164 + 4 x 163 + 10 x 162 + 14 x 161 + 13 x 160 = 5242880 + 524288 + 16384 + 2560 + 224 + 13 = 14,0664062510

2.5. Konversi (Pengubahan) Bilangan
Ada kalanya kita perlu menyatakan suatu bilangan dalam basis yang berbeda atau mengubah (mengkorversi) suatu bilangan dari satu basis yang satu ke basis yang lain. Misalkan, kenversi bilangan dari basis-n ke basis-10, kenversi bilangan dari basis-10 ke basis-n, atau konversi dari basis-n ke basis-m. untuk kenversi bilangan dari basis-n ke basis-10telah dikemukakan ketika menyatakan nilai suatu bilangan dari basis-n ke dalam basis-10.


2.6 Konversi bilangan basis-10 ke basis-n
Setidaknya ada 2 cara untuk mengubah bilangan decimal menjadi bilangan dalam basis selain 10. Cara pertama, biasanya untuk bilangan yang kecil, adalah kebalikan dari proses kenversi bilangan dari basis-n (selain 10) ke basis-10 (decimal). Bilangan decimal itu dinyatakan sebagai jumlah dari suku-suku yang setiap suku merupakan hasil kali suatu angka (N) dan bilangan pangkat bulat, kemudian angka-angka tersebutdituliskan dalam posisi yang sesuai. Secara umum dapat dituliskan sebagai : (Bilangan)10 = Σ(N x na)
dengan N menyatakan simbol angka yang diijinkan dalam basis-n, n menyatakan basis bilangan yang dituju, a

    Cara kedua dikenal dengan pembagian berulang. Cara ini sangat baik untuk bilangan decimal yang kecil maupun yang besar. Cara konversi ialah membagi bilangan decimal dan hasil baginya secara berulang dengan basis tujuan kemudian menuliskan sisanya hingga diperoleh hasil bagi 0. Hasil kenversinya adalah menuliskan sisa pertama pada posisi yang paling kecil dan sisa terakhir pada posisi yang paling besar.

     4 A 3 E Jadi 1900610 = 4A3E16 Untuk mengubah bilangan decimal tidak bulat dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama mengubah bagian bulat (disebelah kiri tanda koma) dengan cara seperti yang telah dijelaskan diatas. Tahap kedua mengubah bagian pecahannya (disebelah kanan tanda koma) dengan cara bahwa                            bilangan pecahan dikalikan berulang-ulang dengan basis tujuan sampai hasil perkalian terakhir sama dengan 0 setelah angka disebelah kiri tanda koma dari hasil kali setiap perkalian diambil. Selanjutnya angka-angka disebelah kiri koma yang diambil tadi dituliskan secara berderet dari kiri kekanan.


.
2.7 Konversi bilangan dari basis-n ke basis-m (keduanya bukan basis-10)
Untuk mengkonversi suatu bilangan basis-n (bukan basis-10) menjadi bilangan basis-m (bukan basis-10) dengan n ≠ m diperlukan konversi ke basis-10 sebagai perantara. Kita telah akrab dengan bilangan basis-10. Dengan demikian perlu dua tahap konversi. Tahap pertama mengkonversi bilangan dari basis-n ke basis-10, dan tahap kedua mengkonversi bilangan hasil tahap pertama (dalam basis-10) menjadi basis-m. sebagai contoh ubahlah bilangan 2378 menjadi bilangan yang setara dalam basis-5 ! Tahap 1 : 2378 = 2 x 82 +3x81 +7x80 = 128 + 24 + 7 = 15910. Tahap 2 : 15910 = 1 x 53 + 1 x 52 + 1 x 51 + 4 x 50 = 11145 Jadi 2378 = 1145 Contoh berikutnya adalah mengubah bilangan 52DA16 ke dalam basis-12 yang setara. Tahap 1 : 52DA16 = 5 x 163 + 2 x 162 + 13 x 161 + 10 x 160 = 2121010 Tahap 2 : 2121010 = 1x124+0x123+4x122+3x121+6x120 =1043612 Jadi 52DA16 = 104361

2.8 Operasi Bilangan
Dalam sistem decimal telah dikenal dengan baik mengenai operasi dasar bilangan, yakni penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Operasi-operasi bilangan tersebut juga dapat dikenakan pada sistem bilangan yang lain seperti dalam sistem-sistem bilangan biner, basis-5, octal, heksa-desimal, dan seterusnya. Tetapi pembahasan operasi kali ini lebih banyak pada sistem biner, sedangkan untuk sistem bilangan yang lain akan dikemukakan contoh hanya apabila dipandang perlu. Prinsip-prinsip penggunaan operasi bilangan itu sama dengan yang diterapkan pada sistem decimal. Oleh karena belum akrab dengan sistem bilangan selain decimal, maka untuk memudahkan pelaksanaan operasi hitung perlu pertolongan table operasi.